A. Pengertian
Pengawetan
Pengawetan
makanan adalah
cara yang digunakan untuk membuat makanan memiliki daya simpan yang lama dan
mempertahankan sifat-sifat fisik dan kimia makanan. Dalam mengawetkan makanan
harus diperhatikan jenis bahan makanan yang diawetkan, keadaan bahan makanan,
cara pengawetan, dan daya tarik produk pengawetan makanan. Teknologi pengawetan
makanan yang dikembangkan dalam skala industri masa kini berbasis pada
cara-cara tradisional yang dikembangkan untuk memperpanjang masa konsumsi bahan
makanan.
B. Tujuan
Pengawetan Makanan
a.
Makanan akan bertahan lebih lama
b.
Makanan akan mempertahankan lebih banyak vitamin dan mineralnya
c.
Makanan tersedia untuk dimakan sepanjang tahun
d.
Lebih sedikit makanan yang membusuk
C. Prinsip
Pengawetan Makanan
Prinsip pengawetan pangan ada tiga,
yaitu:
-Mencegah atau memperlambat laju
proses dekomposisi (autolisis)bahan pangan dan
-Mencegah kerusakan yang disebabkan
oleh faktor lingkungan termasuk serangan hama.
-Mencegah atau memperlambat
kerusakan mikrobial,
-Mencegah atau memperlambat kerusakan mikrobial dapat
dilakukan dengan cara:
a.
Mencegah masuknya mikroorganisme (bekerja dengan aseptis),
b.
Mengeluarkan mikroorganisme, misalnya dengan proses filtrasi,
c.
Menghambat pertumbuhan dan aktivitas mikroorganisme, misalnya dengan penggunaan
suhu rendah, pengeringan, penggunaan kondisi anaerobik atau penggunaan pengawet
kimia
d.
Membunuh mikroorganisme, misalnya dengan sterilisasi atau radiasi.
D. Metode
Pengawetan Makanan
Pangan secara umum bersifat mudah rusak
(perishable), karena kadar air yang terkandung di dalamnya sebagai
faktor utama penyebab kerusakan pangan itu sendiri. Semakin tinggi kadar air
suatu pangan, akan semakin besar kemungkinan kerusakannya baik sebagai akibat
aktivitas biologis internal (metabolisme) maupun masuknya mikroba perusak.
Kriteria yang dapat digunakan untuk menentukan apakah makanan tersebut masih
pantas di konsumsi, secara tepat sulit di laksanakan karena melibatkan
factor-faktor nonteknik, sosial ekonomi, dan budaya suatu bangsa.
Idealnya, makanan tersebut harus: bebas polusi pada
setiap tahap produksi dan penanganan makanan, bebas dari perubahan-perubahan
kimia dan fisik, bebas mikroba dan parasit yang dapat menyebabkan penyakit atau
pembusukan (Winarno, 1993).
E. Pengawetan di lakukan dengan cara
modern dan tradisional :
Pengawetan
pangan denagn konsep fisika dibagi menjadi 4 macam :
1.
Pemanasan
Pemanasan
adalah memasukkan bahan makanan pada suhu tinggi. Pemanasan bertujuan
mengurangi populasi mikroorganisme atau membunuh mikroorganisme yang ada dalam
bahan pangan, menginaktifkan enzim. Pemanasan yang digunakan dalam pengawetan
pangan tergantung dari jenis produk yang akan diawetkan.
Pemanasan
dibedakan menjadi :
a.Blansing
Merupakan
perlakuan panas ringan, kurang dari 100oC selama beberapa menit
dengan menggunakan air panas atau uap air panas. Blansing dapat mengurangi
jumlah mikroorganisme pada permukaan pangan, dapat memperlunak jaringan
sayuran, dapat merusak aktivitas enzim dalam sayuran dan beberapa buah. Pengaruh
blansing pada bahan pangan antara lain :

MESIN BLANSING
Ada
beberapa jenis/tipe mesin blansing yang sering digunakan pada proses pengolahan
industri pertanian khususnya pengolahan pangan. Pemilihan jenis mesin dilakukan
berdasarkan jenis bahan, kondisi bahan, serta tujuan dari pengolahan atau
spesifikasi produk yang diinginkan. Beberapa jenis mesin blansing tersebut
adalah :
1.
Rotary Drum Blancher
2.
Batch Blancher
3.
Continuous Blancher
4.
Belt blancher
5.
Thermoscrew blancher

b.Sterilisasi
Sterilisasi merupakan perlakuan panas pada suhu 121oC selama jangka waktu tertentu. Umumnya dilakukan pada bahan makanan yang sifatnya tidak asam atau berasam rendah. Yang tergolong bahan pangan berasam rendah adalah bahan pangan yang memiliki pH lebih besar dari 4.5, misalnya seluruh bahan makanan hewani seperti daging, telur, dan ikan, beberapa jenis sayuran seperti buncis dan jagung. Bertujuan untuk merusak mikrobia dan aktivitas enzim. Bahan yang disterilkan memiliki daya simpan lebih dari 6 bulan. Lamanya waktu sterilisasi bahan dipengaruhi oleh :
1. Ketahanan mikroorganisme dan enzim terhadap panas.
2. Kondisipemanasan.
3. pH bahan.
4. Ukuran wadah yang disterilkan.
5. Keadaan fisik bahan.
2.
Pendinginan dan Pembekuan
Pendinginan
dan pembekuan adalah memasukkan makanan pada tempat atau ruangan yang bersuhu
sangat rendah. Suhu rendah dapat memperlambat aktivitas mikroba, menghambat
aktivitas enzim, menghambat reaksi kimia. Makin rendah suhu yang digunakan
kecepatan reaksi kimia dan pertumbuhan mikroba menjadi lambat.
Ketika makanan dipaparkan ke temperatur dingin, produk makanan tersebut akan kehilangan panas akibat laju pindah panas yang terjadi dari makanan ke medium bertemperatur rendah di sekitarnya. Permukaan makanan akan mengalami penurunan temperatur lebih cepat dibandingkan dengan bagian dalamnya.Contoh alat pendinginan serta pembekuan adalah Lemari Es atau Kulkas.
Ketika makanan dipaparkan ke temperatur dingin, produk makanan tersebut akan kehilangan panas akibat laju pindah panas yang terjadi dari makanan ke medium bertemperatur rendah di sekitarnya. Permukaan makanan akan mengalami penurunan temperatur lebih cepat dibandingkan dengan bagian dalamnya.Contoh alat pendinginan serta pembekuan adalah Lemari Es atau Kulkas.
- Lemari es atau Kulkas
Lemari
es atau yang lebih dikenal dengan Kulkas adalah alat rumah tangga yang umum
digunakan. Lemari es ini berfungsi untuk mendinginkan atau menjaga kondisi
makanan dan minuman agar lebih tahan lama.

Cara kerja lemari es dapat dilihat dari diagram
siklus termodinamika berikut ini :
Refrigerant, misalnya freon masuk ke kompresor
melalui pipa tembaga dalam bentuk uap. Dalam kompresor freon di tekan sehingga
keluar sudah berbentuk uap super panas (vapour super heated) dan bertekanan
tinggi. Uap bertekanan ini masuk ke kondensor dan mengkondensasi uap mencadi
cairan.
Cairan freon yang bertekanan tinggi ini masuk ke
katup ekpansi sehingga tekanan turun dengan drastis sehingga terjadi flash
evaporation seterusnya masuk ke evaporator untuk dirubah lagi menjadi uap.
Untuk merubah nya menjadi uap evaporator menyerap panas disekelilingnya, karena
evaporator diletakan didalam kulkas maka kulkas pun menjadi dingin.Untuk garis
besar nya berikut urutan kerjanya. Freon masuk kompresor dalam bentuk uap
bertekanan dan temperatur rendah, keluar dalam bentuk uap bertekanan dan
temperatur tinggi kemudian masuk ke kondensor. Dari kondensor dalam bentuk
cairan (temperatur dan tekanan tinggi) ke katup ekspansi tekanan turun (bentuk
uap dan cairan) masuk ke evaporator. Dari evaporator keluar dalam bentuk uap
dan masuk lagi kekompresor. Siklus ini terus berulang.
3. Teknik
Iradiator
Iradiator merupakan suatu fasilitas untuk melakukan
iradiasi berbagai macam sampel atau produk dengan tujuan penelitian,
pengembangan, pengawetan, dan sterilisasi. Karena itu, irradiator dapat disebut
sebagai fasilitas iradiasi. Berdasarkan jenis radiasi pengion yang digunakan,
radiator dikelompokkan menjadi iradiator gamma dan irradiator elektron.
Iradiator gamma terbagi lagi menjadi empat kategori yang umumnya menggunakan
zat radioaktif Co-60, sedangkan irradiator electron terbagi menjadi dua
kategori dan menggunakan filamen, biasanya terbuat dari tungsten, atau plasma
sebagai sumber radiasi.

Masa simpan yang pendek suatu produk merupakan
masalah utama bagi industri yang volume produksinya besar,karena dapat
menimbulkan kerugian akibat kerusakan dalam masa penyimpanan dan transportasi.
Masalah masa simpan ini dapat diatasi dengan radiasi sehingga masa simpan
produk menjadi lebih lama. Sebagai contoh, masa simpan pangan olahan berupa
tahu hanya dapat bertahan selama tiga hari tanpa radiasi, sedangkan setelah
melalui proses pengawetan dengan radiasi masa simpannya menjadi dua bulan.
Dengan demikian, proses pengawetan dengan radiasi dapat memberikan keuntungan
ekonomi, tanpa menimbulkan efek samping pada produk dan lingkungan.
4. Pengalengan
Pengalengan merupakan suatu cara pengawetan bahan
makanan yang dipak secara hermetis ( kedap terhadap udara, air, mikroba dan
benda asing lainnya ) dalam suatu wadah yang kemudian disterilkan untuk
membunuh semua mikroba patogen (penyebab penyakit) dan pembusuk. Bahan yang
dikalengkan biasanya sayur-sayuran, daging, ikan, buah-buahan, susu, kopi, dan
banyak lagi macamnya. Pengalengan makanan secara hermetis memungkinkan makanan
dapat terhindar dari kebusukan, perubahan kadar air, kerusakan akibat oksidasi
atau perubahan cita rasa. Teknik
pengalengan termasuk paduan teknik kimia dan
fisika. Teknik kimia yaitu dengan memberi zat pengawet, sedangkan fisika karena
dikalengi dalam ruang hampa udara.
Sekarang metode penyimpanan bahan makanan dan minuman berupa pengalengan
tersebut telah digunakan hampir pada seluruh makanan dan sangat
bermanfaat dalam penyimpanan bahan makanan cepat saji agar tetap awet.
Proses
Pengalengan

Cara-cara Pengawetan Makanan dan Minuman secara
Tradisional
A. Pengawetan
Makanan
1. Penggaraman
Garam telah digunakan sebagai pengawet makanan
alami, untuk meningkatkan umur simpan ikan serta berbagai jenis produk daging.
Proses pengasinan melibatkan penambahan garam dalam bahan makanan, untuk
mengeringkan mikroba melalui osmosis, garam, sehingga menambahkan, menghambat
pertumbuhan bakteri (biasanya Clostridium botulinum) dan dengan demikian,
mencegah pembusukan makanan. Selain memberikan sebuah perisai dari mikroba,
garam juga melindungi makanan dari ragi dan jamur. Telah diamati bahwa daging
yang ditambahkan garam bertahan lebih lama daripada daging yang segar.

Salah satu metode pengawetan alami yang sudah
dilakukan masyarakat luas selama bertahun-tahun adalah penggunaan garam atau
NaCl. Larutan garam yang masuk ke dalam jaringan diyakini mampu menghambat
pertumbuhan aktivitas bakteri penyebab pembusukan, sehingga makanan tersebut
jadi lebih awet. Prosesnya biasa disebut dengan pengasinan (curing) atau
penggaraman (maka lahirlah istilah ikan asin).
2. Pengeringan
Cara lain yang juga kerap dilakukan untuk
mengawetkan makanan adalah pengeringan karena air bebas merupakan faktor utama
penyebab kerusakan makanan. Semakin tinggi kadar air dalam makanan tertentu,
maka semakin cepat proses kerusakannya. Melalui proses ini, air yang terkandung
dalam bahan makanan akan diminimalkan. Dengan begitu, mikroorganisme perusak
makanan tidak bisa berkembang biak.
Seperti halnya makhluk hidup yang kita jumpai
sehari-hari, baik jamur, kuman, maupun bakteri memerlukan air untuk bisa
bertahan hidup. Namun agar hasilnya bisa maksimal, proses pengeringan harus
berjalan sempurna. Jika tidak, jamur dan mikroba tetap bisa tumbuh pada makanan
yang berarti tidak aman lagi dikonsumsi.

Keuntungan pengeringan :
- Bahan menjadi lebih awet dan volume bahan menjadi lebih kecil sehingga mempermudah dan menghemat ruang pengangkutan dan pengepakan.
- Berat bahan menjadi berkurang sehingga mempermudah dalam pemindahan.
- Biaya produksi menjadi lebih murah.
Kerugian pengeringan :
Sifat asal dari bahan yang dikeringkan dapat
berubah,
misalnya : Bentuknya, sifat-sifat fisik dan
kimianya, penurunan mutu.
Berapa bahan kering perlu perlakuan tambahan
sebelum dipakai misalnya harus dibasahkan kembali sebelum digunakan
3. Pengasapan
Pengasapan adalah salah satu cara memasak, memberi
aroma, atau proses pengawetan makanan, terutama daging, ikan. Makanan diasapi
dengan panas dan asap yang dihasilkan dari pembakaran kayu, dan tidak
diletakkan dekat dengan api agar tidak terpanggang atau terbakar.
Sewaktu pengasapan berlangsung, makanan harus
dijaga agar seluruh bagian makanan terkena asap. Waktu pengasapan bergantung
ukuran potongan daging dan jenis ikan. Api perlu dijaga agar tidak boleh
terlalu besar. Bila suhu tempat pengasapan terlalu panas, asap tidak dapat
masuk ke dalam makanan. Sewaktu pengasapan dimulai, api yang dipakai tidak
boleh terlalu besar.
Di peternakan negara-negara Barat sering terdapat
bangunan kecil yang disebut smokehouse (rumah asap) untuk mengasapi dan menyimpan
daging. Bangunan ini didirikan terpisah dari bangunan lain untuk mencegah
bahaya kebakaran.
Pengasapan
ikan

4. Pemanisan
Pemanisan adalah menaruh kadar gula yang cukup
tinggi kedalam makanan dapat juga pada minuman.Cara pengawetan makanan ini
dengan memasukkan makanan kedalam medium yang mengandung gula dengan kadar
konsentrasi sebesar 40% untuk menurunkan kadar mikroorganisme. Jika kadar
konsentrasinya 70% maka dapat mencegah kerusakan makanan.Contoh manisan buah.
Manisan buah adalah buah-buahan yang direndam dalam
larutan gula selama beberapa waktu. Ada dua jenis manisan yaitu :
- Manisan Basah
Manisan basah adalah manisan yang diperoleh setelah
penirisan buah dari larutan gula. Manisan basah mempunyai kandungan air yang
lebih banyak dan penampakan yang lebih menarik karena serupa dengan buah
aslinya.Manisan basah biasanya dibuat dari buah yang keras.
Berbagai macam manisan buah (basah)
- Manisan Kering
Manisan kering adalah manisan yang diperoleh
setelah buah ditiriskan kemudian dijemur sampai kering. Manisan kering memiliki
daya simpan yang lebih lama, kadar air yang lebih rendah, dan kada rgula yang
lebih tinggi. Manisan kering biasanya dibuat dari buah yang teksturnya lunak.

Berbagai macam manisan buah (kering)
1.
Pengawetan
Minuman
1. Sterilisasi
Sterilisasi
yaitu proses membunuh semua mikroorganisme termasuk spora bakteri pada benda
yang telah didekontaminasi dengan tepat. Tujuan sterilisasi yaitu untuk
memusnahkan semua bentuk kehidupan mikroorganisme patogen termasuk spora, yang
mungkin telah ada pada peralatan kedokteran dan perawatan yang dipakai. Hal
yang perlu dipertimbangkan dalam memilih metode sterilisasi yaitu sifat bahan
yang akan disterilkan.
Cara-cara
Pengawetan Makanan dan Minuman secara Modern
Pengawetan
makanan dan minuman secara Modern adalah cara yang digunakan untuk membuat
makanan memiliki daya simpan yang lama dan mempertahankan sifat-sifat fisik dan
kimia makanan yang menggunakan alat-alat teknologi dan zat-zat.
1.
Pengalengan (Canning)
Cara
yang satu ini termasuk paduan antara teknik kimiawi dan fisika. Teknik kimiawi
yaitu dengan cara memasukkan zat pengawet, sedangkan fisikanya dengan
memasukkan makanan atau minuman ke dalam ruang hampa udara. Makanan atau
minuman dimasukkan ke dalam kaleng aluminium atau benda logam lainnya lalu
diberi zat pengawet seperti garam, asam, atau gula. Biasanya yang diawetkan
dalam kaleng adalah sayur-sayuran, buah-buahan, ikan, daging, susu,
kopi,teh,dan lain-lain.).
Pengawetan Minuman
Pengawetan Makanan
2. Pendinginan (cooling)
Pendinginan
adalah penyimpanan bahan pangan di atas suhu pembekuan bahan yaitu -2 sampai
+100 C. Cara pengawetan dengan suhu rendah lainya yaitu pembekuan.
Pembekuan adalah penyimpanan bahan pangan dalam keadaan beku yaitu pada suhu 12
sampai -240 C. Pembekuan
cepat
(quick freezing) di lakukan pada suhu -24 sampai -400 C. Pendinginan
biasanya dapat mengawetkan bahan pangan selama beberapa hari atau minggu
tergantung pada macam bahan panganya, sedangkan pembekuan dapat mengawetkan
bahan pangan untuk beberapa bulan atau kadang beberapa tahun. Perbedaan lain
antara pendinginan dan pembekuan adalah dalam hal pengaruhnya terhadap
keaktifan mikroorganisme di dalam bahan pangan. Penggunaan suhu rendah dalam
pengawetan pangan tidak dapat membunuh bakteri, sehingga jika bahan pangan beku
misalnya di keluarkan dari penyimpanan dan di biarkan mencair kembali
(thawing), pertumbuhan bakteri pembusuk kemudian berjalan cepat kembali.
Pendinginan dan pembekuan masing-masing juga berbeda pengaruhnya terhadap rasa,
tekstur, nilai gizi, dan sifat-sifat lainya. Beberapa bahan pangan menjadi rusak
pada suhu penyimpangan yang terlalu rendah..
Makanan dan minuman yang didinginkan
3. Pengemasan
Pengemasan
merupakan bagian dari suatu pengolahan makanan yang berfungsi untuk pengawetan
makanan, mencegah kerusakan mekanis, perubahan kadar air. Teknologi pengemasan
perkembangan sangat pesat khususnya pengemas plastik yang dengan drastis
mendesak peranan kayu, karton, gelas dan metal sebagai bahan pembungkus primer.
Berbagai
jenis bahan pengepak seperti tetaprak, tetabrik, tetraking merupakan jenis
teknologi baru bagi berbagai jus serta produk cair yang dapat dikemas dalam
keadaan qaseptiis steril. Sterilisasi bahan kemasan biasanya dilakukan dengan
pemberian cairan atau uap hidrogen peroksida dan sinar UV atau radiasi gama.
Makanan dan Minuman Berkemasan
4. Teknik Radiasi
Iradiasi
adalah proses aplikasi radiasi energi pada suatu sasaran, seperti
pangan. Menurut Maha (1985), iradiasi adalah suatu teknik yang digunakan
untuk pemakaian energi radiasi secara sengaja dan terarah. Sedangkan
menurut Winarno et al. (1980), iradiasi adalah teknik penggunaan energi
untuk penyinaran bahan dengan menggunakan sumber iradiasi buatan.
Iradiasi
pangan yang dapat digunakan untuk pengawetan bahan pangan adalah radiasi
elektromagnetik yaitu radiasi yang menghasilkan foton berenergi tinggi sehingga
sanggup menyebabkan terjadinya ionisasi dan eksitasi pada materi yang
dilaluinya. Jenis iradiasi ini dinamakan radiasi pengion, contoh dan
gelombang elektromagnetik b, a radiasi pengion adalah radiasi partikel. Contoh
radiasi pengion yang disebut terakhir ini paling banyak digunakan (Sofyan,
1984; Winarno et al., 1980).
Dampak
Positif dan Negatif dalam pengawetan makanan dan minuman
Dampak
secara sederhana bisa diartikan sebagai pengaruh atau akibat. Dalam setiap
keputusan yang diambil oleh seorang atasan biasanya mempunyai dampak
tersendiri, baik itu dampak positif maupun dampak negatif. Dampak juga bisa
merupakan proses lanjutan dari sebuah pelaksanaan pengawasan internal.
Berikut
ini adalah dampak-dampak dalam Pengawetan makanan dan
minuman baik secara Tradisional maupun Modern serta berikut zat-atau bahan
pengawet yang ditambahkan dalam pengawetan secara modern maupun tradisional :
Definisi Bahan Pengawet
Bahan
pengawet adalah bahan yang dapat mencegah atau menghambat fermentasi,
pengasaman atau penguraian lain terhadap makanan yang disebabkan
mikroorganisme. Zat pengawet dimaksudkan untuk memperlambat oksidasi yang dapat
merusak makanan. Ada dua jenis
pengawet
makanan yaitu alami dan sintetik (buatan). Pengawet yang paling aman adalah
bahan-bahan alam, misalnya asam cuka (untuk acar), gula (untuk manisan), dan
garam (untuk asinan ikan/telur). Selain itu beberapa bahan alam misalnya saja
penambahan air jeruk atau air garam yang dapat digunakan untuk menghambat
terjadinya proses reaksi waktu coklat (browing reaction) pada buah apel.
•
Zat
Aditif
Pengertian
Zat Aditif
Zat
aditif adalah zat yang ditambahkan ke dalam makanan untuk membuat makanan lebih
menarik dan juga mengawetkan. Zat aditif yang banyak digunakan dalam kehidupan
sehari-hari antara lain : Pewarna, Pemanis, Pengawet, Penyedap rasa,
Antioksidan, Pemberi aroma, Pengental, Pengemulsi.
- Zat Pewarna
Contoh
zat pewarna alami dan penggunaannya
- Kunyit (Zat warna Kurkumin) – Memberikan warna kuning dan dapat menghilangkan bau anyir pada ikan. Selain itu kunyit digunakan untuk pembuatan tahu, keju dan kapri kalengan.
- Daun pandan dan daun suji memberikan warna hijau (Zat warna klorofil). Daun pandan juga memiliki waroma yang enak. Kedua daun ini dapat digunakan untuk jelli dan agar-agar.
- Zat warna Kap xantin dalam cabe merah memberikan warna merah dan rasa pedas.
- Bit mengandung zat warna antosianin yang memberikan warna abu violet dan merah.
- Wortel mengandung warna apocanotenal dan canthoxanthin yang memberikan warna oranye sampai merah.
Sejauh
ini,pengawetan menggunakan bahan alami atau zat-zat alami(pengawetan secara
tradisional) jauh lebih aman dan tidak menimbulkan dampak negatif berlebih bagi
tubuh.
- Zat Pemanis
Zat
pemanis terdiri dari : zat pemanis alami dan zat pemanis sintetis. Contoh pemanis
alami antara lain gula tebu, gula kepala, dan gula aren. Dalam kadar tertentu
gula juga dapat berfungsi sebagai pengawet. Gula sintetis yang dianggap non
kalori bisa digunakan untuk orang yang menjalani program diet atau untuk
penderita penyakit diabetes melitus (Kencing manis). Disamping itu, gula
sintetis biasa digunakan pada pembuatan produk makanan atau minuman rendah
kalori.
Contoh
pemanis sintetis adalah sebagai berikut :
- Siklamat, bahan pemanis ini 30 kali lebih manis dari gula.
- Sakarin, bahan ini 400 kali lebih dari gula. Bahan ini meninggalkan rasa pahit jika kita memakan makanan dengan pemanis ini.
- Sorbitol merupakan gula sintesis yang dapat digunakan bersama sakarin pemanis sintesis jenis ini digunakan pada pembuatan selai, jelli, roti dan kismis.
- Acesulfame K tingkat kemanisannya 200 kali lebih manis dibandingkan gula, rasa manisnya bersih dan tidak menetap.
- Aspartam 200 kali lebih manis dibanding gula yang terbentuk dari asam amino.
- Dulsin, bahan ini 250 kali lebih manis dibandingkan gula. Penggunaannya dilarang oleh Depkes karena bersifat karsinogenik atau menyebabkan penyakit kanker
- Penyedap Rasa
Zat
penyedap rasa digunakan untuk meningkatkan cita rasa gurih dan menakan rasa
yang tidak diinginkan dalam makanan. Senyawa yang biasa digunakan sebagai
penyedap rasa adalah sebagai berikut :
- Monosodium Glutamat (MSG) – MSG merupakan senyawa peningkat rasa, tidak berbau, merupakan campuran rasa manis dan asin, senyawa ini juga dapat menekan rasa bawang yang tajam, rasa sayuran mentah dan rasa pahit dalam sayuran kaleng.
- Hydrolised Vegetable Protein (HVP) – Senyawa ini diperoleh dari proses hidrolisis protein tumbuhan misalnya kedelai dari HVP ini dihasilkan jenis bumbu masak berupa kaldu, misalnya rasa kaldu ayam dan rasa kaldu sapi.
- Garam Inosinat dan Garam Guanilat – Campuran dari dua jenis senyawa ini akan menghasilkan zat penyedap rasa. Rasa gurih yang ditimbulkan 300 kali lebih lezat dibanding MSG.
- Yeast Extract – Yeast extract diperoleh dari hasil ekstrasi ragi tertentu sehingga banyak mengandung protein, asam inosinat dan asam guanilat.
- KERUGIAN AKIBAT PEMAKAIAN ZAT ADITIF
Penggunaan
Zat Pewarna – Apabila penggunaan zat pewarna sintetis untuk makanan tidak
sesuai dengan aturan yang ditetapkan dapat menyebabkan alergi dan penyakit
asma. Selain itu juga bersifat karsinogenik lemah.
Penggunaan
Zat Pemanis – Zat pemanis sintetis tidak cocok digunakan pada produk makanan
dan minuman yang ditujukan sebagai penambah energi atau untuk meningkatkan gula
darah. Penggunaan yang berlebihan zat pemanis ini dapat menyebabkan tumor
kantong kemih.
- Penggunaan Zat Pengawet
- Natrium Nitrit dan Natrium Nitrat – Pemakaian berlebihan bahan ini menimbulkan kematian. Hal ini disebabkan karena bahan ini mampu berkaitan dengan hemoglobin dan di dalam tubuh membentuk senyawa karsinogen nitrosamina.
- Natrium Benzoat – Pemakaian yang berlebihan natrium benzoat dapat menimbulkan alergi dan gejala hiperaktif pada anak.
- Kalium Sorbat – Pemakaian yang berlebihan dapat menimbulkan iritasi pada kulit.
Beberapa
zat pengawet yang dilarang untuk digunakan sebagai pengawet makanan antara lain
sebagai berikut :
- Formain – Merupakan zat pengawet yang biasa digunakan pada proses pengawetan spesimen biologi (pengawetan mayat) bukan zat pengawet makanan.
- Boraks (Natrium Tetra Borat) – Boraks adalah bahan yang digunakan untuk pembuatan porselen atau tegel. Boraks dapat mengakibatkan pendarahan pada lambung. Selain itu boraks dapat menyebabkan gangguan pada sistem stimulasi saraf otak, sistem pencernaan ginjal, hati dan kulit.
- Asam Salisilat – Asam Salisilat adalah zat anti jamur yang biasa digunakan untuk obat penyakit kulit. Bukan zat anti jamur untuk makanan. Gejala keracunan Asam Salisilat adalah muntah-muntah, sesak napas, iritasi, lambung, dan dapat membahayakan janin.









Wah makasih infonya, kemarin sempat ditawari pen jual display cooler itu sama kayak kulkas kan ya ? bedanya apa :o
BalasHapus